akbarweb.my.id – Film horor terbaru garapan Osgood Perkins, The Monkey, hadir dengan pendekatan yang unik dan berbeda dari kebanyakan film horor modern. Diadaptasi dari cerita pendek berjudul sama karya Stephen King, film ini tidak sekadar berusaha menakuti penonton, tetapi lebih memilih jalur eksplorasi yang penuh absurditas dan sadisme. Dengan nuansa b-horror yang membara, The Monkey menjelma menjadi sebuah tontonan yang mengaburkan batas antara teror dan komedi gelap.
Sejak awal, film ini langsung membawa kita ke dalam kisah si kembar Hal dan Bill Shelburn yang menemukan sebuah boneka monyet dengan kekuatan supernatural. Boneka ini memiliki kebiasaan menyeramkan: setiap kali kunci di punggungnya diputar, ia mulai menabuh drum, dan tak lama setelahnya, seseorang akan mati dengan cara yang mengerikan. Tidak ada pola jelas siapa yang menjadi korban atau kapan eksekusi terjadi, seolah monyet itu beroperasi atas kehendaknya sendiri. Ketika kecil, Hal dan Bill membuang boneka tersebut ke dalam sumur untuk menghentikan teror yang mereka alami. Namun, dua puluh lima tahun kemudian, boneka itu kembali, dan Hal yang kini telah dewasa harus menghadapi malapetaka yang berulang.
Baca Juga: Review Film 1 Kakak 7 Ponakan: Perjalanan Moko Menghadapi Tanggung Jawab Keluarga dan Cinta
Dibandingkan dengan horor konvensional seperti The Shining atau Pet Sematary, The Monkey lebih menonjolkan unsur satir dan brutalitas yang mengingatkan pada Final Destination. Meski tidak menampilkan sosok menyeramkan secara fisik, film ini sukses membangun atmosfer mencekam melalui efek kutukan yang diterapkan oleh sang monyet. Teknik sinematografi yang digunakan Perkins, terutama dalam adegan potong silang (crosscutting), memperkuat ketegangan dan kejutan dalam setiap adegannya. Saat monyet mulai memainkan drumnya, penonton pun bersiap untuk menghadapi kejadian tak terduga yang bisa terjadi kapan saja.

Salah satu elemen paling mencolok dari The Monkey adalah keberaniannya dalam menyajikan kekerasan ekstrem. Adegan pembuka film ini saja sudah cukup membuat perut mual dengan visualisasi kematian yang sadis—dari kepala yang menggelinding, tubuh yang terbakar, hingga anggota badan yang remuk dihantam benda tajam. Tidak hanya itu, film ini juga menyisipkan elemen humor gelap yang menambah absurditas keseluruhan cerita. Perkins tampak menikmati kebebasannya dalam meruntuhkan batasan konvensional film horor, termasuk dalam cara ia menyajikan konflik karakter dengan gaya satir.
Dari sisi tema, The Monkey tidak hanya membahas tentang horor supernatural, tetapi juga menggambarkan sisi gelap sifat manusia. Aksi monyet pembunuh dalam film ini bisa diartikan sebagai metafora ego manusia yang selalu mencari jalan pintas tanpa mempertimbangkan konsekuensi. Dengan pesan moral tersirat tentang hubungan sebab-akibat, film ini seolah mengingatkan bahwa selama kebencian dan keserakahan masih ada, kehancuran pun tak akan terelakkan.
Secara keseluruhan, The Monkey adalah perpaduan antara horor, komedi satir, dan kekerasan brutal yang memberikan pengalaman menonton yang berbeda. Dengan gaya penceritaan yang liar dan eksploratif, film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi para penontonnya. Bagi penggemar horor yang mencari sesuatu yang unik dan tidak biasa, The Monkey layak untuk masuk dalam daftar tontonan.
Untuk ulasan film lainnya, kunjungi akbarweb.my.id dan temukan berbagai artikel menarik seputar dunia perfilman dan hiburan!