akbarweb.my.id – “1 Kakak 7 Ponakan” adalah sebuah film yang mengisahkan perjalanan hidup Moko (Chicco Kurniawan), seorang arsitek muda yang harus menghadapi tanggung jawab besar setelah kehilangan orang-orang terdekatnya. Sutradara sekaligus penulis naskah, Yandy Laurens, kembali menghadirkan cerita yang menggugah perasaan, seperti yang pernah ia tunjukkan dalam film sebelumnya, “Keluarga Cemara.”

Cerita dimulai dengan Moko yang hampir meraih gelar sarjana arsitektur, namun kehidupannya tiba-tiba berubah setelah tragedi yang menimpa keluarganya. Sang kakak, Agnes (Maudy Koesnaedi), meninggal setelah melahirkan, diikuti oleh suaminya, Atmo (Kiki Narendra). Dalam waktu singkat, Moko tidak hanya kehilangan orang tuanya, tetapi juga beban tanggung jawab besar untuk mengurus empat keponakannya: Woko (Fatih Unru), Nina (Freya JKT48), Ano (Nadif H.S.), dan bayi Ima. Tak hanya itu, seorang anak titipan, Gadis (Kawai Labiba), juga masuk dalam kehidupan Moko setelah menitipkan dirinya oleh guru pianonya, Pak Nanang (Ence Bagus).

Keberadaan Moko yang kini menjadi kepala keluarga membuatnya harus berjuang mengatasi berbagai permasalahan. Dalam menghadapi hidup yang penuh tantangan ini, Moko berusaha mencari pekerjaan sebagai arsitek sambil menjalani hubungan dengan kekasihnya, Maurin (Amanda Rawles). Yandy Laurens menyajikan kisah ini dengan penuh kehangatan, meskipun penuh dengan air mata, namun tak sekadar tearjerker yang cengeng. Sebaliknya, ada banyak momen positif yang juga mengundang senyum, seperti saat Moko menggunakan Google Maps untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya.

YouTube Video

Film ini juga menyentuh tema keluarga dengan cara yang sangat mengena. Moko, meskipun berada di titik terendah hidupnya, tetap menunjukkan keberanian untuk bertanggung jawab terhadap keponakan-keponakannya. Namun, kisah ini juga menawarkan sisi romansa yang matang antara Moko dan Maurin. Hubungan mereka bukan hanya tentang kata-kata manis, melainkan saling mendengarkan dan memberikan dukungan satu sama lain. Momen romantis yang tercipta dalam film ini, seperti saat Moko dan Maurin berbicara dalam mobil yang sedang dicuci, dengan latar belakang warna pink yang lembut, memberikan sentuhan magis yang menyegarkan.

Namun, meskipun film ini dipenuhi dengan momen-momen yang luar biasa, tidak semua elemen film ini berjalan mulus. Beberapa penonton merasa bahwa alur cerita yang terkesan klise dan mudah ditebak kurang memberikan kesegaran yang diharapkan. Beberapa adegan terasa berlarut-larut dan beberapa dialog terkesan repetitif, sehingga bisa membuat penonton sedikit merasa jenuh. Selain itu, penempatan produk dalam film ini juga terlihat cukup mencolok, yang terkadang mengganggu fokus pada cerita.

Baca Juga: Review Film Captain America: Brave New World – Era Baru, Tantangan Baru di Dunia MCU

Meski begitu, “1 Kakak 7 Ponakan” tetap menyuguhkan kualitas akting yang sangat solid dari para pemainnya, termasuk Chicco Kurniawan yang berhasil menggambarkan konflik batin Moko dengan sangat mendalam. Fatih, Freya, dan Nadif juga memberikan kontribusi besar dalam menggambarkan dinamika emosi dalam film ini. Momen-momen haru dan lucu, serta kepekaan Yandy dalam menyusun visual dan musik, mampu mengangkat film ini ke tingkat yang lebih tinggi.

Secara keseluruhan, meskipun film ini mungkin tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru, kehangatan cerita tentang keluarga dan pengorbanan tetap menjadi kekuatan utama dalam “1 Kakak 7 Ponakan.” Yandy Laurens berhasil menyajikan film yang mengingatkan kita akan pentingnya keluarga, kebersamaan, dan cinta yang tak terhalang oleh apapun.

Untuk ulasan film lainnya, kunjungi akbarweb.my.id dan temukan berbagai artikel menarik seputar dunia perfilman dan hiburan!

Show 2 Comments

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *